Tuesday, March 26, 2013

DURHAKA KEPADA ORANG TUA (UQUQUL WALIDAIN)


Uququl walidain adalah lawan dari birrul walidain. Uquq bermakna memutuskan hubungan. Disebut uquq, karena terjadinya pembangkangan atau kedurhakaan anak terhadap orang tua itu disebabkan putusnya hubungan, tidak ada silaturrahim yang harmonis, tidak adanya pengertian, sehingga anak menjadi lepas kontrol, lepas kasih sayang dari orang tua. Jika anak yang sudah berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, tetapi orang tua mungkin karena satu dalam lain hal, lalu memutuskan hubungannya dengan anak, maka tidak ada sikap lain dari anak kecuali berdoa dan memohon ampun kepada Allah sambil berusaha terus menjalin hubugan baik dengan orang tua.
Orang tua yang telah memenuhi seluruh hak anak, menjaga dan memelihara, mengasihi dan menyayangi, mengarahkan dan memberikan apa yang diperlukan oleh anak dalam batas yang wajar, dia harus dihormati dan ditaati, titahnya yang sesuai dengan kaidah (definisi kedua) harus dijalankan laksana titah majikan terhadap budak belian. Dalam kondisi seperti itu jika sang anak tiba-tiba karena sesuatu hal berontak dan memutuskan silaturrahim dengan orang tua, mungkin karena pacar atau pergaulan, maka disitulah anak telah masuk ranah “uququl walidain”, durhaka kepada orang tua. Sungguh sangat besar dosanya bagi anak yang durhaka kepada orang tua. Rasulullah SAW bersabda:
“Tiga golongan yang tidak masuk surga, yaitu orang yang memutuskan hubungan dengan orang tua, orang yang masa bodoh (membiarkan keluarga bermain serong), dan laki-laki yang berperilaku wanita (atau sebaliknya)”. (HR. Al-Hakim)
Karena itu silaturrahim menjadi sangat penting, baik ditengah-tengah keluarga maupun ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ingat, tidak ada ketaatan yang disegerakan balasannya didunia ini kecuali silaturrahim. Begitu juga, tidak ada kedurhakaan yang disegerakan sisksanya kecuali durhaka memutuskan tali silaturrahim. Nabi SAW bersabda: “sesungguhnya ketaatan yang disegerakan balasannya adalah silaturrahim”.

TAAT KEPADA ORANG TUA


Makna Taat
Taat arti terjemahannya adalah patuh. Syekh Muhammad Abdul Rauf Al-Manawi dalam kitab At-Taarif (definisi-definisi) menjelaskan bahwa ada dua definisi taat yang berbeda.
Pertama, taat menurut kaum Muktazilah, yaitu kecocokan dengan kehendak. Maksudnya, menjalankan perintah yang hasilnya cocok dengan yang dikehendaki, walaupun arahannya tidak sesuai. Dalam hal ini, seseorang yang diperintahkan melakukan sesuatu tidak harus mengikuti apa yang sudah diarahkan, yang penting adalah hasil akhirnya sesuai denga yang dikehendaki. Contohnya, seorang bapak menyuruh anaknya untuk membeli buku di toko A, tetapi anak membeli di toko B. jelas di sini, anak tidak mengikuti arahan orang tua, tetapi hasilnya adalah sama dengan yang dikehendaki oleh orang tua/bapak tersebut. Menurut definisi di atas, anak tersebut termasuk anak yang taat kepada orang tua/bapaknya.
Kedua, taat menurut Ahli Sunnah. 1) kecocokan dengan perintah, 2) segala sesuatu yang diridhai dan mendekatkan diri kepada Allah. Maksud definisi pertama adalah melakukan perbuatan sesuai dengan perintah, cocok dengan arahan yang diterapkan. Kerjakan saja sesuai aturan, jangan melanggar walaupun kita belum tahu persisi apa maksudnya, walaupun kita tidak tahu apa tujuannya dan apa hasil akhirnya. Definisi ini tepat untuk ketaatan kepada Allah SWT, shalat misalnya. Ikuti aturannya, walaupun kita belum tahu apa maksud dan tujuannya. Ketika Allah memerintah kepada kita, maka jangan banyak bertanya, jangan mengelak, jangan beralasan, walaupun kita belum tahu maknanya. Jangan seperti kaum Yahudi yang selalu banyak bertanya dengan tujuan mengelak dari perintah Allah. Allah SWT berfirman:
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qè=t«ó¡n@ ô`tã uä!$uô©r& bÎ) yö6è? öNä3s9 öNä.÷sÝ¡n@ bÎ)ur (#qè=t«ó¡n@ $pk÷]tã tûüÏm ãA¨t\ムãb#uäöà)ø9$# yö7è? öNä3s9 $xÿtã ª!$# $pk÷]tã 3 ª!$#ur îqàÿxî ÒOŠÎ=ym ÇÊÉÊÈ  
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Maidah: 101)
Adapun maksud dari definis kedua adalah perintah melakukan atau meninggalkan sesuatu. Apapun bentuknya, yang penting sesuatu itu masuk dalam hal yang mendatangkan keridhaan dan mengantarkan pada kedekatan kepada Allah. Definisi inilah yang sangat cocok dijadikan sebagai pedoman ketaatn kepada orang tua atau kepada selain Allah SWT. Dari definisi ini kita memastikan, bahwa untuk menjalankan perintah orang tua sebagai tanda ketaatan kepadanya, anak yang sudah cukup dewasa atau baligh musti tahu  maksud, tujuan, dan tahu arah yang dikehendaki orang tua. Karena bisa jadi, anak yang cerdas akan menghasilkan lebih baik daripada yang diinginkan orang tua. Anak bisa mengerahkan segala kemampuannya kalau tahu maksud yang dituju.

Taat Kepada Orang Tua
Betapa besar kasih sayang dan pengorbanan orang tua kepada anaknya. Sungguh tak terkirakan, dan tak mungkin terbalaskan. Karena itulah Allah SWT menetapkan kepada setiap diri hendaknya berbakti dan taat kepada orang tua. Taat kepada orang tua adalah bagian dari taat kepada Allah SWT.
Seseorang  yang taat menjalankan perintah Allah, tidak mungkin menjadi penentang orang tuanya. Seseorang yang selalu mejalin hubungan dengan Allah SWT dalam bentuk ibadah, tidak mungkin dia akan mengabaikan jalinan dengan orang tuanya. Ketaatan kepada Allah harus diikuti dengan ketaatan kepada seluruh perintah-Nya. Dan taat kepada orang tua adalah perintah kepada Allah SWT. Artinya ketaatan kepada Allah SWT harus disertai dengan ketaatan kepada orang tua.
Taat kepada Allah akan mendatangkan ridha Allah. Taat kepada orang tua akan mendatangkan ridha orang tua pula. Ridha Allah adalah tujuan hidup, dan ridha kedua orang tua memudahkan jalan hidup.


Batas-Batas Ketaatan
Taat kepada orang tua bukan berarti selalu menuruti apa yang menjadi keinginan orang tua. Orang tua harus memperhatikan psikologis anak ketika memerintah. Orang tua juga harus memperhatikan kepatutan perintah ny sesuai dengan umur anak. Bisa saja orang tua menyuruh anak yang berusia 17 tahun membeli bumbu masak ke warung sebelah, tetapi perintah itu sangat tidak pas dengan psikologis anak. Orang tua tidak boleh menyalah artikan “kewajiban taat” bagi anak denga menyuruh melakukan hal-hal di luar batas norma kewajaran dan di luar batas agama. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam maksiat kepada Allah.”
Apapun bentuk perintah yang diberikan orang tua maupu orang lain, kalau sudah masuk dalam hal yang dilarang Allah, kita tidak boleh mentaati perintah itu. Misalnya:
a.    Diperintahkan untuk menyekutukan Allah, atau meninggalkan shalat demi sesuatu hal, mendapatkan sesuatu dengan berbuat zalim.
b.   Disuruh pindah agama atau mengganti keyakinan.
c.    Disuruh datang ke dukun meminta pertolongan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi orang tua.
d.   Disuruh berbohong karena kejahatan yang dilakukan orang tua.
e.    Menjual barang yang diharamkan Allah.
f.     Disuruh mencari pekerjaan/penghasilan dengan cara yang dilarang Allah.
Kalau saja terjadi perbedaan agama antara anak dan orang tua, anak harus  tetap berbuat baik kepada orang tua, anak harus tetap mempergauli orang tua dengan baik.

Manfaat Ketaatan
Sungguh, taat menjadi pilar berdirinya Islam, baik kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada orang tua, maupun kepada pemimpin. Ketaatan menjadi salah satu saham bagi keagungan Islam. Taat menjadi penjaga keselamatan sebagaimana sabda Rasulullah:
“Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda: Islam itu gabungan dari 10 saham; sungguh akan merugi dan menyesal orang yang tidak memiliki saham sama sekali. Saham pertama adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan itulah agama. Saham kedua adalah shalat, dan itulah fitrah manusia. Saham ketiga adalah zakat, dan itulah pembersih. Saham keempat adalah puasa, dan itulah tameng. Saham kelima adalah haji, dan itulah syariat. Saham keenam adalah jihad, dan itulah perang. Saham ketujuh adalah menyuruh kebaikan, dan itulah komitmen. Saham kedelapan adalah mencegah kemungkaran, dan itulah hujjah (dalil). Saham kesembilan adalah berjamaah, dan itulah kasih sayang (flesibelitas). Saham kesepuluh adalah taat, dan itulah tameng pemelihara.” (Al-Mu’jam Al-Kabir)
Siapa yang taat kepada Allah akan mendapat ridha-Nya. Siapa yang taat kepada orang tua akan mendapat ridha orang tua dan ridha Allah SWT. Ridha orang tua menentramkan hati dan menghantarkan kepada kebahagiaan. Keridhaan orang tua menjadi pembuka rejeki. Keridhaan orang tua melapangkan jalan menuju masa depan yang cerah, meraih cita-cita, meraih sukses, dan selamat. Tidak ada kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT semudah ketika kita berbuat baik kepada orang tua dan mendapat ridhanya. Sebaliknya melawan orang tua atau durhaka kepada orang tua akan menyebabkan hidup tidak tentram, dan usaha tidak lancar. Termasuk dosa yang akan disegerakan azabnya adalah dosa durhaka kepada orang tua. Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Nabi SAW ditanta tentang dosa besar, beliau menjawab: menyekutukan Allah, uququl walidain (durhaka kepada orang tua), membunuh, dan kesaksian palsu.” (HR. Bukhari)


PENDIDIKAN AQIDAH PADA ANAK


Secara psikologis pada dasarnya setiap anak telah mempunyai fitrah (bawaan) keimanan atau keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah tersebut tidak akan bisa berkembang sesuai dengan petunjuk dan pedoman yang ada dalam Al-Quran dan Sunah/Rasul (Muhammad Saw) tanpa peran dari kedua orang tua/pendidikan yang memberikan pedoman dan petunjuk kepada anak.  Dalam hal ini John Locke berpendapat, yang terkenal dengan  teori tabularasa "bahwa anak itu bagaika sehelai kertas putih", ini bisa berarti apapun isi dan tulisan pada kertas tersebut tergantung orang yang menggoreskan pena pada kertas tersebut. Artinya perkembangan anak dalam pendidikan tergantung bagaimana orang tua/lingkungan/pendidikan yang diberikan kepadanya. Dalam haditsnya Rasulullah Saw bersabda:

"Tidaklah seorang anak itu dilahirkan, kecuali dalam keadaan fitrah (kesucian agama yang sesuai dengan naluri), sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Muslim)

Sedangkan alasan yang mendasari tentang pentingnya pendidikan aqidah pada anak adalah sebagaiman telah diketahui bahwa secara psikologis manusia sudah mempunyai fitrah (bawaan) keimanan dan keyakinan terhadap Tuhan, sedangkan secara antropologis manusia membutuhkan perlindungan dan jaminan keamanan dari kekuatan ghaib, dari sudut pandang sosiologis manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan sesamanya yang dilandasi tata nilai.

Dengan ketiga dasr tersebut, maka pendidikan aqidah pada anak berusaha memberikan pedoman serta mengembangkan fitrah bawaannya sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Al-Hadits, dengan harapan apabila sudah saatnya anak harus berinteraksi dengan sesamanya dalam lingkungan yang lebih luas, perilaku mereka selalu berada dalam tatanan nilai agama. Dalam hal ini Al-Ghazali berpendapat: “Maka sewajarnyalah didahulukan kepada anak-anak pada awal pertumbuhannya supaya (materi aqidah) dihafalkan dengan baik, kemudian senantiasa terbukalah pengertiannya nanti sedikit demi sedikit sewaktu dia telah besar (matang intelektualnya). Jadi permulaannya dengan menghafal, kemudia memahami, meyakini dan membenarkan, dengan tidak memerlukan dalil...jalan menguatkan dan menetapkannya (aqidah), tidaklah dengan cara berdebat dan berilmu kalam”.

Pada masa kanak-kanak pendidikan aqidah sangat penting, karena akan memberikan konsep dasar mengenai aqidah kepada mereka. Apabila pada saatnya anak sudah bisa berfikir secara abstrak (matang perkembangan intelektualnya), maka anak sudah mempunyai dasar tentang aqidah yang dijadikan acuan dalam berpikir/belajar untuk memahami aqidah.

Bertolak dari alasan tersebut dengan melihat perkembangan intelektual dan kemampuan kognitif anak, maka dalam konteks pendidikan aqidah pada anak , materi yang diberikan antara lain rukun iman itu sendiri (ruang lingkup aqidah). Apabila arkanul iman sudah dihafalkan dan difahami serta diyakini oleh anak sejak dini sesuai dengan kemampuan afektifnya, serta sesuai dengan petunjuk dan pedoman yang diberikan oleh orang tua/pendidik terhadapnya, maka bila perkembangan intelektualnya sudah matang, serta anak bisa berpikir dan memahami aqidah yang diterimanya sejak dini, maka keimanan mereka di masa dewasa nanti bukan sekedar taklid atau warisan dari orang tua dan lingkungannya.

Berdasarkan aliran psikologi asosiasi dalam hal ini adalah teori Lewin, sebagaimana telah dikutip oleh Sumadi Suryabrata: “bahwa belajar adalah mengulang-ulang. Dengan pengulangan tersebut, maka akan terjadi perubahan pada pengetahuan kognitif seseorang”. Dengan demikian apabila anak sejak awalnya sudah diajarkan untuk menghafal rukun iman, bila perkembangan intelektualnya sudah sudah matang duharapkan mereka bisa memahami dan menganalisa untuk kemudian bisa meyakini rukun iman serta dieujudkan dalam perbuatan, maka dengan sendirinya akan menuntun anak pada keimanan yang yakin atau ainul yaqin bahkan bisa mencapai taraf haqqul yaqin.

Sebagaimana telah diketahui bahwa anak masih berikir secara simbolik, tentunya materi (ruang lingkup/aqidah/rukun iman) pendidikan aqidah yang diberikan kepada anak juga akan dipahami secara simbolik pula. Berhubungan dengan hal tersebut, maka materi pendidikan aqidah yang diberikan kepada anak akan diuraikan sebagai berikut:
1.      Iman Kepada Allah
Karena anak masih berpikir secara simbolik, maka sifat Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong, dan sifat Allah yang lain akan dipahami anak sesuai dengan sifat yang dilihat manusia. Padahal sifat Allah jelas berbeda dengan sifat manusia; untuk itu orang tua/pendidik perlu menggunakan strategi dan pendekatan yang sesuai dengan kemampuan kognitif anak. Mengenai wujud Allah, anak tidak diperlu diberi penjelasan secara mendetail, karena anak masih berpikir secara simbolik. Tentang kekuasaan Allah, anak bisa diperlihatkan melalui alam ciptaan Allah seperti gunung yang tinggi, lautan dan pantai, langit biru, pelangi yang indah, keindahan bentuk bukan purnama, gemerlapnya bintang pada malam hari dan hal-hal lain yang menkjubkan kepada anak dan yakinkan kepada anak bahwa itu semua adalah ciptaan Allah Swt.
2.      Iman Kepada Malaikat
Dalam rangka menanmkan keimanan kepada Malaikat terhadap anak; maka anak cukup diceritakan mengenai kebaikan-kebaikan Malaikat Allah. Misalnya Malaikat akan selalu mendoakan orang-orang yang membaca shalawat dan orang yang beriman, maka anak akan senang apabila hal ini diceritakan kepada anak. Anak juga perlu diberitahu bahwa setiap orang selalu diikuti oleh malaikat. Pada intinya anak diceritakan mengenai sifat dan kebaikan malaikat terhadap manusia, hal ini untuk merangsang keinginan anak untuk mau mendengar cerita tentang malaikat. 
3.      Iman Kepada Kitab Allah
Dalam usaha menanamkan keimana terhadap kitab Allah kepada anak, disamping anak diberitahu mengenai beberapa kitab Allah selain Al-Quran, anak juga diajak untuk yakin bahwa Al-Quran adalah kitab Allah yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini bisa disampaikan melalui hafalan-hafalan surat-surat pendek, doa harian, seperti doa mau makan, mandi, tidur, dan lain sebagainya.
4.      Iman Kepada Rasul Allah
Materi yang perlu diberikan kepada anak dalam usaha menanamkan keimanan terhadap Rasul Allah, disamping mengenai nama beberapa Nabi dan Rasul yang sudah disebutkan dalam Al-Quran, anak juga perlu diceritakan mengenai kepahlawanan, kejujuran, sifat-sifat terpuji para Nabi dan Rasul; semuanya dikemas dalam cerita yang menarik dan indah agar anak mau mendengarkan ceritanya.
5.      Iman Kepada Hari Akhir
Mengenai iman kepada hari akhir, anak cukup diceritakan bahwa setelah semua makhluk hidup mati, akan ada siksa kubur, yaumul baats (bangkitnya manusia dari kubur), mahsyar (tempat  berkumpulnya makhluk setelah bangkit dari kubur), dibukanya catatn amal, mizan (timbangan amal), shirat (titian), haudh (telaga), syafaat, surga dan kenikmatannya, neraka dan siksaannya. Dalam hal ini anak tidak perlu dijelaskan terlalu detail mengenai hal-hal tersebut di atas, cukup sebatas informasi saja; sebagaimana diketahui bahwa anak balum bisa berpikir abstrak.
6.      Iman Kepada Takdir Allah
Mengenai iman kepada takdir Allah, bisa diperlihatkan kepada anak mengenai diciptakannya manusia; ada laki-laki dan perempuan, air es dingin, api panas, dan lain sebagainya. Agar anak terbiasa mengenai tentang takdir Allah, maka anak bisa dibiasakan untuk selalu mengucapkan kata insya allah setiap kali akan berjanji, dengan mengatakan kepada anak bahwa manusia tidak pernah tahu takdir Allah untuk hari esok.

Demikian materi pendidikan aqidah yang bisa diberikan kepada anak, pada intinya materi yang diberikan kepada anak adalah menyesuaikan kondisi psikis, pola perilaku, dan pola kehidupan anak, serta perkembangan agamanya.


Manusia: Makhluk Paling Indah dan Berderajat Paling Tinggi


Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling indah dan paling tinggi derajatnya. Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah atau pemimpin di bumi, atau kiranya di seluruh semesta ciptaan Tuhan. Apakah artinya predikat “paling indah” dan “paling tinggi” itu? Hakikat keindahan artinya rasa senang dan bahagia. Dengan demikian, predikat paling indah untuk manusia dapat diartikan bahwa tiada sesuatu ciptaan Tuhan yang menyamai keberadaan manusia yang mampu mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan di mana pun dan pada saat apa pun, baik bagi dirinya sendiri, maupun makhluk lain.
Keindahan manusia berpangkal pada diri manusia itu sendiri. Diri manusia memang indah, baik fisiknya, maupun dasar-dasar mental dan kemampuannya. Tingkah laku dan karya-karya manusia pun indah sepanjang tingkah laku dan karya-karyanya itu dilandasi oleh keindahan fisik dan dasar-dasar mental serta kemampuannya itu.
Lihatlah keadaan fisik manusia, “seburuk-buruknya” keadan fisik seseorang masih jauh lebih baik atau lebih indah daripada seekor binatang yang paling cantik sekalipun. “Indah” di sini dimaksudkan bukan semata-mata dari segi bentuk atau wujud penampilannya, tetapi lebih lagi dari segi maknanya.
Seorang manusia dan seekor burung sama-sama mempunyai mata, tetapi mata manusia memiliki makna jauh lebih luas, lebih tinggi, dan lebih kompleks, dan lebih komplit. Fungsi mata burung pada dasarnya hanya untuk melihat benda-benda di sekitarnya dalam radius amat terbatas, namun mata manusia, selain untuk melihat benda-benda di sekitarnya, juga mempunyai fungsi-fungsi lain yang apabila dikombinasikan dengan upaya pembudayaan akan mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa, dalam bidang ilmu, teknoogi, dan seni.


Wednesday, March 20, 2013

RPP BTQ KELAS IX SMT II


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah
:
MTs. Negeri Cisontrol
Mata Pelajaran
:
Mulok Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)
Kelas / Semester
:
IX / 2
Standar Kompetensi
:
1. Mampu membaca, menulis, dan melapalkan serta memahami kandungan Al-Qur’an pada Surat-Surat Pendek (At-Thariq-Al-Muthaffifin)
Kompetensi Dasar
:
1.1 Membaca, menulis, melafalkan (menghafal) serta memahami isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat At-Thariq
Indikator
:
·         Membaca QS At-Thariq;
·         Melafalkan  (menghafal) QS At-Thariq;
·         Menuliskan dan menterjemahkan QS At-Thariq;
·         Menjelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat dalam QS At-Thariq;
·         Menunjukan perilaku yang sesuai dengan QS At-Thariq
Alokasi Waktu
:
 6 x 40 Menit

A.
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu :
·         Membaca QS At-Thariq;
·         Melafalkan  (menghafal) QS At-Thariq;
·         Menuliskan dan menterjemahkan QS At-Thariq;
·         Menjelaskan hukum bacaan (tajwid)yang terdapat dalam QS At-Thariq;
·         Menunjukan perilaku yang sesuai dengan QS At-Thariq

B.
Materi Pembelajaran
Qur’an Surat At-Thariq

C.

Metode Pembelajaran
Ceramah, Demonstrasi, Tanya jawab, Penugasan

D.
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan dengan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat At-Thariq
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Membacakan dan diikuti bersama QS  At-Thariq dengan fasih dan tartil
  • Melafalkan dengan cara dihafal QS  At-Thariq setiap siswa


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat At-Thariq
·     Evaluasi


Pertemuan Kedua :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat At-Thariq
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Menuliskan secara benar QS At-Thariq di papan tulis
  • Siswa diminta untuk menterjemahkan QS At-Thariq dengan menyalin pada buku Al-Qur’an dan Terjemahannya


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat At-Thariq
·     Evaluasi


Pertemuan Ketiga :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat At-Thariq
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Menjelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS At-Thariq;
  • Menjelaskan dan menerangkan isi kandungan yang terdapat dalam QS At-Thariq


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat At-Thariq
·     Evaluasi


Aspek life skill yang dikembangkan :
·      Kecakapan Personal (Berpikir kritis dan logis, Percaya diri)
·      Kecakapan Sosial (Menuliskan pendapat/gagasan)
·      Kecakapan Akademik (Kecakapan ekspresi verbal dan non verbal)


Karakter Siswa               :
·         Teliti dalam membaca/memahami materi pembelajaran
·         Kreatif dalam mengembangkan materi pembelajaran
·         Konstruktif dalam membangun konsep
·         Responsif terhadap materi pembelajaran
·         Reflektif sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya

E.
Sumber Belajar
·      Al-Qur’an dan Terjemahnya (TB. Hasbi Ash-Shiddiqi, at. All, 1971, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Juz ‘Amma dan Terjemahnya (As’ad Humam, 1994, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an (As’ad Humam, 1994, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Pelajaran Tajwid (A. Mas’ud Syafi’i, 1967, Semarang : Usaha Keluarga).

F.
Penilaian
·      Teknik
·      Soal/Instrumen

:
:

Tes lisan, Tes tulisan, Kuis, Praktek

·         Baca QS At-Thariq !
·         Lafalkan/hafalkan QS At-Thariq !
·         Tulis dan terjemahkan QS At-Thariq !
·         Jelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat dalam QS At-Thariq !
·         Bagaimana cara menunjukkan perilaku yang sesuai dengan QS At-Thariq ?




Mengetahui
Kepala Madrasah




Drs. Kuswendi
    NIP. 19651212 199103 1 005

Cisontrol, Januari 2012
Guru Mata Pelajaran





Toni Faturokhman, S. Pd. I

























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah
:
MTs. Negeri Cisontrol
Mata Pelajaran
:
Mulok Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)
Kelas / Semester
:
IX / 2
Standar Kompetensi
:
1. Mampu membaca, menulis, dan melapalkan serta memahami kandungan Al-Qur’an pada Surat-Surat Pendek (At-Thariq-Al-Muthaffifin)
Kompetensi Dasar
:
1.2 Membaca, menulis, melafalkan (menghafal) serta memahami isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Buruj
Indikator
:
·         Membaca QS Al-Buruj;
·         Melafalkan  (menghafal) QS Al-Buruj;
·         Menuliskan dan menterjemahkan QS Al-Buruj;
·         Menjelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat dalam QS Al-Buruj;
·         Menunjukan perilaku yang sesuai dengan QS Al-Buruj
Alokasi Waktu
:
 6 x 40 Menit

A.
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu :
·         Membaca QS Al-Buruj;
·         Melafalkan  (menghafal) QS Al-Buruj;
·         Menuliskan dan menterjemahkan QS Al-Buruj;
·         Menjelaskan hukum bacaan (tajwid)yang terdapat dalam QS Al-Buruj;
·         Menunjukan perilaku yang sesuai dengan QS Al-Buruj

B.
Materi Pembelajaran
Qur’an Surat Al-Buruj

C.

Metode Pembelajaran
Ceramah, Demonstrasi, Tanya jawab, Penugasan

D.
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan dengan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Buruj
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Membacakan dan diikuti bersama QS  Al-Buruj dengan fasih dan tartil
  • Melafalkan dengan cara dihafal QS  Al-Buruj setiap siswa


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Buruj
·     Evaluasi


Pertemuan Kedua :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Buruj
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Menuliskan secara benar QS Al-Buruj di papan tulis
  • Siswa diminta untuk menterjemahkan QS Al-Buruj dengan menyalin pada buku Al-Qur’an dan Terjemahannya


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Buruj
·     Evaluasi


Pertemuan Ketiga :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Buruj
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Menjelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS Al-Buruj;
  • Menjelaskan dan menerangkan isi kandungan yang terdapat dalam QS Al-Buruj


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Buruj
·     Evaluasi


Aspek life skill yang dikembangkan :
·      Kecakapan Personal (Berpikir kritis dan logis, Percaya diri)
·      Kecakapan Sosial (Menuliskan pendapat/gagasan)
·      Kecakapan Akademik (Kecakapan ekspresi verbal dan non verbal)


Karakter Siswa               :
·         Teliti dalam membaca/memahami materi pembelajaran
·         Kreatif dalam mengembangkan materi pembelajaran
·         Konstruktif dalam membangun konsep
·         Responsif terhadap materi pembelajaran
·         Reflektif sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya

E.
Sumber Belajar
·      Al-Qur’an dan Terjemahnya (TB. Hasbi Ash-Shiddiqi, at. All, 1971, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Juz ‘Amma dan Terjemahnya (As’ad Humam, 1994, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an (As’ad Humam, 1994, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Pelajaran Tajwid (A. Mas’ud Syafi’i, 1967, Semarang : Usaha Keluarga).

F.
Penilaian
·      Teknik
·      Soal/Instrumen

:
:

Tes lisan, Tes tulisan, Kuis, Praktek

·         Baca QS Al-Buruj !
·         Lafalkan/hafalkan QS Al-Buruj !
·         Tulis dan terjemahkan QS Al-Buruj !
·         Jelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat dalam QS Al-Buruj !
·         Bagaimana cara menunjukkan perilaku yang sesuai dengan QS Al-Buruj ?




Mengetahui
Kepala Madrasah




Drs. Kuswendi
    NIP. 19651212 199103 1 005

Cisontrol, Januari 2012
Guru Mata Pelajaran





Toni Faturokhman, S. Pd. I

























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah
:
MTs. Negeri Cisontrol
Mata Pelajaran
:
Mulok Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)
Kelas / Semester
:
IX / 2
Standar Kompetensi
:
1. Mampu membaca, menulis, dan melapalkan serta memahami kandungan Al-Qur’an pada Surat-Surat Pendek (At-Thariq-Al-Muthaffifin)
Kompetensi Dasar
:
1.3 Membaca, menulis, melafalkan (menghafal) serta memahami isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq
Indikator
:
·         Membaca QS Al-Insyiqaq;
·         Melafalkan  (menghafal) QS Al-Insyiqaq;
·         Menuliskan dan menterjemahkan QS Al-Insyiqaq;
·         Menjelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat dalam QS Al-Insyiqaq;
·         Menunjukan perilaku yang sesuai dengan QS Al-Insyiqaq
Alokasi Waktu
:
 6 x 40 Menit

A.
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik mampu :
·         Membaca QS Al-Insyiqaq;
·         Melafalkan  (menghafal) QS Al-Insyiqaq;
·         Menuliskan dan menterjemahkan QS Al-Insyiqaq;
·         Menjelaskan hukum bacaan (tajwid)yang terdapat dalam QS Al-Insyiqaq;
·         Menunjukan perilaku yang sesuai dengan QS Al-Insyiqaq

B.
Materi Pembelajaran
Qur’an Surat Al-Insyiqaq

C.

Metode Pembelajaran
Ceramah, Demonstrasi, Tanya jawab, Penugasan

D.
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan dengan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Membacakan dan diikuti bersama QS  Al-Insyiqaq dengan fasih dan tartil
  • Melafalkan dengan cara dihafal QS  Al-Insyiqaq setiap siswa


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq
·     Evaluasi


Pertemuan Kedua :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Menuliskan secara benar QS Al-Insyiqaq di papan tulis
  • Siswa diminta untuk menterjemahkan QS Al-Insyiqaq dengan menyalin pada buku Al-Qur’an dan Terjemahannya


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq
·     Evaluasi


Pertemuan Ketiga :
1.  Kegiatan Pendahuluan (5 menit)
·      Apersepsi
·      Motivasi
·      Menginformasikan kepada peserta didik tentang beberapa hal yang berhubungan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq
·      Menyampaikan tujuan pembelajaran


2.  Kegiatan Inti (25 menit)
  • Menjelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS Al-Insyiqaq;
  • Menjelaskan dan menerangkan isi kandungan yang terdapat dalam QS Al-Insyiqaq


3.   Kegiatan Penutup (10 menit)
·     Melakukan refleksi bersama terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan
·     Membuat kesimpulan isi kandungan ayat Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq
·     Evaluasi


Aspek life skill yang dikembangkan :
·      Kecakapan Personal (Berpikir kritis dan logis, Percaya diri)
·      Kecakapan Sosial (Menuliskan pendapat/gagasan)
·      Kecakapan Akademik (Kecakapan ekspresi verbal dan non verbal)


Karakter Siswa               :
·         Teliti dalam membaca/memahami materi pembelajaran
·         Kreatif dalam mengembangkan materi pembelajaran
·         Konstruktif dalam membangun konsep
·         Responsif terhadap materi pembelajaran
·         Reflektif sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya

E.
Sumber Belajar
·      Al-Qur’an dan Terjemahnya (TB. Hasbi Ash-Shiddiqi, at. All, 1971, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Juz ‘Amma dan Terjemahnya (As’ad Humam, 1994, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an (As’ad Humam, 1994, Jakarta : Departemen Agama RI).
·      Pelajaran Tajwid (A. Mas’ud Syafi’i, 1967, Semarang : Usaha Keluarga).

F.
Penilaian
·      Teknik
·      Soal/Instrumen

:
:

Tes lisan, Tes tulisan, Kuis, Praktek

·         Baca QS Al-Insyiqaq !
·         Lafalkan/hafalkan QS Al-Insyiqaq !
·         Tulis dan terjemahkan QS Al-Insyiqaq !
·         Jelaskan hukum bacaan (tajwid) yang terdapat dalam QS Al-Insyiqaq !
·         Bagaimana cara menunjukkan perilaku yang sesuai dengan QS Al-Insyiqaq ?




Mengetahui
Kepala Madrasah




Drs. Kuswendi
    NIP. 19651212 199103 1 005

Cisontrol, Januari 2012
Guru Mata Pelajaran





Toni Faturokhman, S. Pd. I